Selasa, 01 Juli 2014 Reporter: Devi Lusianawati Editor: Widodo Bogiarto 3977
(Foto: doc)
Pencemaran limbah di Laut Jakarta sudah dalam tahap mengkhawatirkan. Pencemaran yang makin parah terjadi pada awal Juni lalu mengakibatkan 2.500 nelayan di pesisir Jakarta Utara terancam kehilangan mata pencahariannya. Untuk menanggulanginya, Suku Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan (P2K) Jakarta Utara telah melakukan pengecekan serta mengirimkan sampel air laut yang tercemar untuk diperiksa ke laboratorium.
Di sisi lain, agar lebih efektif lantaran pencemaran air laut melibatkan dua instansi, Sudin P2K membentuk tim khusus untuk meneliti pencemaran Laut Jakarta. Kedua intansi yang dilibatkan dalam tim khusus adalah, Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLHD) DKI Jakarta dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebersihan Pesisir.
"Selain membawa sampel air dari Kali Baru, Marunda dan Cilincing, kami juga membentuk tim khusus agar penelitian pencemaran air laut ini bisa maksimal," kata Sri Hayati, Kepala Sudin P2K Jakarta Utara, Selasa (1/7).
Menurut Sri, pembuktian atau pemeriksaan sumber pencemaran Laut Jakarta diprediksi akan memakan waktu yang cukup lama. "Tapi akan berupaya untuk menyelamatkan habitat laut dan nasib ribuan nelayan," tukasnya.
Informasi yang dikumpulkan, sudah sejak lama Laut Jakarta mulai tercemar limbah industri. Kini sebagian besar nelayan di lima sentra nelayan, yakni di Kalibaru, Marunda, Cilincing, Kamalmuara, dan Muara Angke, memilih menjaring ikan hingga ke tengah laut. Akibatnya biaya operasional nelayan mulai melambung tinggi dan perolehan ikan tak sesuai harapan.
Sementara itu,
imbas ekosistem biota laut yang rusak, sebagian nelayan kini memilih mengganti mata pencarian sebagai buruh serabutan ataupun menjadi petani musiman dibandingkan dengan melaut yang tak bisa mencukupi kehidupan para nelayan sekarang ini.Menurut Jumani (44), nelayan Kalibaru, tercemarnya wilayah pesisir ini mengakibatkan matinya spesies seperti ikan dan rajungan. Karena pencemaran ini, pendapatan 2.500 nelayan Kalibaru-Cilincing turun hingga 75 persen."Bahkan banyak nelayan yang enggak dapat apa-apa selama melaut," ujar Jumani.
Menurut Jumani, sebelum tercemar, di wilayah sepanjang 2,9 kilometer ini biasanya nelayan meraup untung Rp 200 ribu per hari. Namun karena pencemaran itu para nelayan hanya mendapatkan Rp 50 ribu per hari. Angka itu adalah jumlah maksimal karena nelayan sudah jarang mendapati ikan yang hidup di wilayah tersebut.
Sejak musim hujan berakhir, wilayah pesisir tersebut mulai menghitam dan mengeluarkan bau tak sedap. Menurut Jumani, biasanya air laut berwarna hijau tua. Selang dua hari kemudian, ratusan ikan di wilayah tersebut mati dan mengambang hingga mengeluarkan bau bangkai.
Menurut Jumani, pencemaran diduga berasal dari Kali Kresek Lagoa, Kali Banjil Kanal Timur, Kali Cakung Drain, dan Kali Marunda. Di kali-kali inilah menurut Jumani ditempatkan pipa pembuangan dari pabrik-pabrik sekitar.